WELLCOME TO MY BLOG

My Games

Pusat hosting

Add This

Jumat, 29 Juni 2012

Hikayat Hang Tuah

Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak HangMahmud. Mereka bertempat tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orangdi Sungai Duyung mendengar kabar teng Raja Bintan yang baik dan sopan kepadasemua rakyatnya.Ketika Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepadaistrinya yang bernama Dang Merdu,”Ayo kita pergi ke Bintan, negri yang besar itu,apalagi kita ini orang yang yang miskin. Lebih baik kita pergi ke Bintan agar lebihmudah mencari pekerjaan.”Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit.Cahayanya penuh di atas kepala Hang Tuah. Hang Mahmudpun terbangun danmengangkat anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau sepertiwangi-wangian. Siang harinya, Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepadaistri dan anaknya. Setelah mendengar kata suaminya, Dang Merdu pun langsungmemandikan dan melulurkan anaknya.Setelah itu, ia memberikan anaknya itu kain,baju, dan ikat kepala serbaputih. Lalu Dang Merdu member makan Hang Tuah nasi kunyit dan telur ayam,ibunya juga memanggil para pemuka agama untuk mendoakan selamatan untukHang Tuah. Setelah selesai dipeluknyalah anaknya itu.Lalu kata Hang Mahmud kepada istrinya,”Adapun anak kita ini kita jaga baik-baik, jangan diberi main jauh-jauh.”Keesokan harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untukpersediaan. Lalu ada pemberontak yang datang ke tengah pasar, banyak orangyang mati dan luka-luka. Orang-orang pemilik took meninggalkan tokonya danmelarikan diri ke kampong. Gemparlah negri Bintan itu dan terjadi kekacauandimana-mana. Ada seorang yang sedang melarikan diri berkata kepada Hang Tuah,”Hai, Hang Tuah, hendak matikah kau tidak mau masuk ke kampung.?”Maka kata Hang Tuah sambil membelah kayu,”Negri ini memiliki prajurit dan pegawai yang akan membunuh, ia pun akan mati olehnya.”Waktu ia sedang berbicara ibunya melihat bahwa pemberontak itu menuju Hang Tuah samil menghunuskan kerisnya. Maka ibunya berteriak dari atas toko,katanya,”Hai, anakku, cepat lari ke atas toko!”Hang Tuah mendengarkan kata ibunya, iapun langsung bangkit berdiri danmemegang kapaknya menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak itu datangke hadapan Hang TTuah lalu menikamnya bertubi-tubi. Maka Hang Tuah punMelompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah lalu mengayunkankapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelalah kepala orang itu dan mati. Maka kataseorang anak yang menyaksikannya,”Dia akan menjadi perwira besar di tanahMelayu ini.” Terdengarlah berita itu oleh keempat kawannya, Hang Jebat, Hang Kesturi,Hang Lekir, dan Hang Lekui.
Mereka pun langsung berlari-lari mendapatkan Hang Tuah. Hang Jebat danHang Kesturi bertanya kepadanya,”Apakah benar engkau membunuh pemberontakdengan kapak?”Hang Tuah pun tersenyum dan menjawab,”Pemberontak itu tidak pantasdibunuh dengan keris, melainkan dengan kapak untuk kayu.”Kemudian karena kejadian itu, baginda raja sangat mensyukuri adanya sangHang Tuah. Jika ia tidak datang ke istana, pasti ia akan dipanggil oleh Sang Raja.Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan pegawai-pegawai lain yang juga iri hatikepada Hang Tuah. Setelah diskusi itu, datanglah mereka ke hadapan Sang Raja.Maka saat sang Baginda sedang duduk di tahtanya bersama parabawahannya, Tumenggung dan segala pegawai-pegawainya datang berlutut, lalumenyembah Sang Raja, “Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat, adabanyak berita tentang penghianatan yang sampai kepada saya. Berita-berita itusudah lama saya dengar dari para pegawai-pegawai saya.”Setelah Sang Baginda mendengar hal itu, maka Raja pun terkejut lalubertanya, “Hai kalian semua, apa saja yang telah kalian ketahui?”Maka seluruh menteri-menteri itu menjawab, “Hormat tuanku, pegawai sayayang hina tidak berani datang, tetapi dia yang berkuasa itulah yang melakukan halini.”Maka Baginda bertitah, Hai Tumenggung, katakana saja, kita akanmembalasanya.”Maka Tumenggung menjawab, “Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat,untuk datang saja hamba takut, karena yang melakukan hal itu, tuan sangatmenyukainya. Baiklah kalau tuan percaya pada perkataan saya, karena jika tidak,alangkah buruknya nama baik hamba, seolah-olah menjelek-jelekkan orang itu.Setelah Baginda mendengar kata-kata Tumenggung yang sedemikian itu,maka Baginda bertitah, “Siapakah orang itu, Sang Hang Tuah kah?”Maka Tumenggung menjawab, “Siapa lagi yang berani melakukannya selainHang Tuah itu. Saat pegawai-pegawai hamba memberitahukan hal ini pada hamba,hamba sendiri juga tidak percaya, lalu hamba melihat Sang Tuah sedang berbicaradengan seorang perempuan di istana tuan ini. Perempuan tersebut bernama DangSetia. Hamba takut ia melakukan sesuatu pada perempuan itu, maka hambadengan dikawal datang untuk mengawasi mereka.”Setelah Baginda mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya berwarnamerah padam. Lalu ia bertitah kepada para pegawai yang berhati jahat itu,“Pergilah, singkirkanlah si durhaka itu!”Maka Hang Tuah pun tidak pernah terdengar lagi di dalam negri itu, tetapi si Tuah tidak mati, karena si Tuah itu perwira besar, apalagi di menjadi wali Allah.Kabarnya sekarang ini Hang Tuah berada di puncak dulu Sungai Perak, di sana iaduduk menjadi raja segala Batak dan orang hutan. Sekarang pun raja ingin bertemu
 dengan seseorang, lalu ditanyainya orang itu dan ia berkata, “Tidakkah tuan inginmempunyai istri?”Lalu jawabnya, “Saya tidak ingin mempunyai istri lagi.”Demikianlah cerita Hikayat Hang Tuah.
 
 

Kesederhanaan Dalam Kemakmuran

Kesederhanaan Dalam Kemakmuran 

KESEDERHANAAN DALAM KEMAKMURAN          
Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru paling melarat, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan.
Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang jadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang agaknya sedang sakit payah. Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya.
Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,”Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?”.
“Tidak, Umar, aku sehat,” jawab Nabi.
“Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunti tulang-tulangmu yang berkeretakan?”.
Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasian. Namun, karena para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya. Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi memimpin shalat berjamaah.
Serta merta Umar pun memekik pedih, “Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat? Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran?”.
Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, “Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?”.
Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.
Seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur. Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, “Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?”
Nabi menjawab, “Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib”.
“Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?”
“Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit,” jawab Nabi.
Tabib itu kurang percaya, “Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?”.
“Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,”ujar Nabi.
Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madinah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan.
Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, “Bagaimana resepnya sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya?”
Rasulullah menjawab, “Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan kalau belum lapar. Jika kami makan, tidaklah sampai terlalu kenyang. Itulah resep untuk hidup sehat, yakni makan yang halal dan baik, dan makanlah untuk takwa, tidak sekedar memuaskan hawa nafsu”.
***

Abu Hurairah r.a. Akrab dengan Kelaparan

Abu Hurairah r.a.
Akrab dengan Kelaparan
Tokoh kita ini biasa berpuasa sunah tiga hari setiap awal bulan Qamariah (bulan Arab dalam penanggalan Hijri), mengisi malam harinya dengan membaca Al-Quran dan salat tahajud. Akrab dengan kemiskinan, dia sering mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar. Dalam sejarah ia dikenal paling banyak meriwayatkan hadis. Dialah Bapak Kucing Kecil (Abu Hurairah), begitu orang mengenalnya.
“Aku sudah dengar pergunjingan kalian. Kata kalian, Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis Nabi. Padahal, para sahabat muhajirin dan anshar sendiri tak ada yang meriwayatkan hadis Nabi sebanyak yang dituturkan Abu Hurairah. Ketahuilah, saudara-saudaraku dari kaum muhajirin disibukkan dengan perniagaan mereka di pasar. Sementara saudara-saudaraku dari anshar disibukkan dengan kegiatan pertanian mereka. Dan aku seorang papa, termasuk golongan kaum miskin shuffah (yang tinggal di pondokan masjid). Aku tinggal dekat Nabi untuk mengisi perutku. Aku hadir (di samping Nabi) ketika mereka tidak ada, dan aku selalu mengingat-ingat ketika mereka melupakan.”
Abu Hurairah adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi. Ia dikenal sebagai salah seorang ahli shuffah, yaitu orang-orang papa yang tinggal di pondokan masjid (pondokan ini juga diperuntukkan buat para musafir yang kemalaman). Begitu dekatnya dengan Nabi, sehingga beliau selalu memanggil Abu Hurairah untuk mengumpulkan ahli shuffah, jika ada makanan yang hendak dibagikan.
Karena kedekatannya itu, Nabi pernah mempercayainya menjaga gudang penyimpan hasil zakat. Suatu malam seseorang mengendap-endap hendak mencuri, tertangkap basah oleh Abu Hurairah. Orang itu sudah hendak dibawa ke Rasulullah. “Ampun tuan, kasihani saya,” pencuri itu memelas. “Saya mencuri ini untuk menghidupi keluarga saya yang kelaparan.”
Abu Hurairah tersentuh hatinya, maka dilepasnya pencuri itu. “Baik, tapi jangan kamu ulangi perbuatanmu ini.”
Esoknya hal ini dilaporkan kepada Nabi. Nabi tersenyum. “Lihat saja, nanti malam pasti ia kembali.”
Benar pula, malam harinya pencuri itu datang lagi. “Nah, sekarang kamu tidak akan kulepas lagi.” Sekali lagi, orang itu memelas, hingga Abu Hurairah tersentuh hatinya. Tapi, ketika hal itu dilaporkan kepada Nabi, kembali beliau mengatakan hal yang sama. “Lihat saja, orang itu akan kembali nanti malam.”
Ternyata pencuri sialan itu benar-benar kembali. “Apa pun yang kamu katakan, jangan harap kamu bisa bebas. Sudah dua kali kulepas, kamu tak kapok-kapok juga.”
Eh, pencuri itu malah menggurui. “Abu Hurairah, sebelum kamu tidur, bacalah ayat kursi agar setan tidak menyatroni kamu.”
Merasa mendapat pelajaran berharga, Abu Hurairah terharu. Ah, ternyata orang baik-baik, pikirnya.
“Apa yang dikatakan orang itu memang benar,” sabda Nabi ketika dilapori pagi harinya. “Tapi orang itu bukan orang baik-baik. Dia adalah setan. Dia katakan itu supaya dia kamu bebaskan.”
Mengikatkan Batu ke Perut.
Abu Hurairah adalah salah seorang tokoh kaum fakir miskin. Abu Hurairah sering lapar ketimbang kenyang. Ia sosok yang teguh berpegang pada sunah Nabi. Ia kerap menasihati orang agar jangan larut dengan kehidupan dunia dan hawa nafsu. Ia tak membedakan antara kaum kaya dan kaum miskin, petinggi negeri atau rakyat jelata dalam menyampaikan kebenaran. Ia pun selalu bersyukur kepada Allah dalam keadaan susah dan senang.
Orang yang nama lengkapnya Abdur Rahman (versi lain: Abdu Syams) ibn Shakhr Ad-Dausi ini adalah sosok humoris. Banyak anekdot yang berasal darinya. Ia pun suka menghibur anak-anak kecil. Ia pecinta kucing kecil. Ke mana-mana dibawanya binatang ini, sehingga julukan Abu Hurairah (bapak kucing kecil) pun melekat padanya.
Dibanding Nabi, umurnya lebih muda sekitar 30 tahun. Dia lahir di Daus, sebuah desa miskin di padang pasir Yaman. Hidup di tengah kabilah Azad, ia sudah yatim sejak kecil, yang membantu ibunya menjadi penggembala kambing.
Dia masuk Islam tak lama setelah pindah ke Madinah pada tahun ketujuh hijriah, bersamaan dengan rencana keberangkatan Nabi ke Perang Khaibar. Tapi ibundanya belum mau masuk Islam. Malah sang ibu pernah menghina Nabi. Ini membuatnya sedih. Untuk itu, ia memohon Nabi berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah kembali menemui ibunya, mengajaknya masuk Islam. Ternyata sang ibu telah berubah, bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat.
Buruh Kasar.
Akan halnya kepindahannya ke Madinah adalah untuk mengadu nasib. Di sana ia bekerja serabutan, menjadi buruh kasar bagi siapa pun yang membutuhkan tenaganya. Acap kali dia harus mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar yang amat sangat.
Menurut shahibul hikayat, ia pernah kedapatan berbaring di dekat mimbar masjid. Gara-gara perbuatan aneh itu, orang mengiranya agak kurang waras. Mendengar kasak-kusuk di kalangan sahabat ini, Nabi segera menemui Abu Hurairah. Abu Hurairah bilang, ia tidak gila, hanya ia lapar. Nabi pun segera memberinya makanan.
Suatu kali, dengan masih mengikatkan batu ke perutnya, dia duduk di pinggir jalan, tempat orang biasanya berlalu lalang. Dilihatnya Abu Bakr melintas. Lalu dia minta dibacakan satu ayat Al-Quran. “Aku bertanya begitu supaya dia mengajakku ikut, memberiku pekerjaan,” tutur Abu Hurairah. Tapi Abu Bakr cuma membacakan ayat, lantas berlalu.
Dilihatnya Umar ibn Khattab. “Tolong ajari aku ayat Al-Quran,” kata Abu Hurairah. Kembali ia harus menelan ludah kekecewaan karena Umar berbuat hal yang sama.
Tak lama kemudian Nabi lewat. Nabi tersenyum. “Beliau tahu apa isi hati saya. Beliau bisa membaca raut muka saya secara tepat,” tutur Abu Hurairah.
“Ya Aba Hurairah!” panggil Nabi.
“Labbaik, ya Rasulullah!”
“Ikutlah aku!”
Beliau mengajak Abu Hurairah ke rumahnya. Di dalam rumah didapati sebaskom susu. “Dari mana susu ini?” tanya Rasulullah. Beliau diberi tahu bahwa seseorang telah memberikan susu itu.
“Ya Aba Hurairah!”
“Labbaik, Ya Rasulullah!”
“Tolong panggilkan ahli shuffah,” kata Nabi. Susu tadi lalu dibagikan kepada ahli shuffah, termasuk Abu Hurairah. Sejak itulah, Abu Hurairah mengabdi kepada Rasulullah, bergabung dengan ahli shuffah di pondokan masjid.
Sepulang dari Perang Khaibar, Nabi melakukan perluasan terhadap Masjid Nabawi, yaitu ke arah barat dengan menambah tiga pilar lagi. Abu Hurairah terlibat pula dalam renovasi ini. Ketika dilihatnya Nabi turut mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu itu kepadanya. Nabi menolak seraya bersabda, “Tiada kehidupan sebenarnya, melainkan kehidupan akhirat.”
Abu Hurairah sangat mencintai Nabi.
Sampai-sampai dia memilih dipukul Nabi karena melakukan kekeliruan ketimbang mendapatkan makanan yang enak. “Karena Nabi menjanjikan akan memberi syafaat kepada orang yang pernah merasa disakitinya secara sengaja atau tidak,” katanya.
Begitu cintanya kepada Rasulullah sehingga siapa pun yang dicintai Nabi, ia ikut mencintainya. Misalnya, ia suka mencium Hasan dan Husain, karena melihat Rasulullah mencium kedua cucunya itu.
Ada cerita menarik menyangkut kehidupan Abu Hurairah dan masyarakat Islam zaman itu. Meski Abu Hurairah seorang papa, boleh dibilang tuna wisma, salah seorang majikannya yang lumayan kaya menikahkan putrinya, Bisrah binti Gazwan, dengan lelaki itu. Ini menunjukkan betapa Islam telah mengubah persepsi orang dari membedakan kelas kepada persamaan. Abu Hurairah dipandang mulia karena kealiman dan kesalihannya. Perilaku islami telah memuliakannya, lebih dari kemuliaan pada masa jahiliah yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.
Sejak menikah, Abu Hurairah membagi malamnya atas tiga bagian: untuk membaca Al-Quran, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadis. Ia dan keluarganya meskipun kemudian menjadi orang berada tetap hidup sederhana. Ia suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan menyedekahkan rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.
Tugas penting pernah diembannya dari Rasulullah. Yaitu ketika ia bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadrami diutus berdakwah ke Bahrain. Belakangan, ia juga bersama Quddamah diutus menarik jizyah (pajak) ke Bahrain, sambil membawa surat ke Amir Al-Munzir ibn Sawa At-Tamimi.
Menolak Jabatan.
Mungkin karena itu, ketika Umar menjadi amirul mukminin, Abu Hurairah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Tapi pada 23 Hijri Umar memecatnya gara-gara sang gubernur kedapatan menyimpan banyak uang (menurut satu versi, sampai 10.000 dinar). Dalam proses pengusutan, ia mengemukakan upaya pembuktian terbalik, bahwa harta itu diperolehnya dari beternak kuda dan pemberian orang. Khalifah menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu ia diminta menduduki jabatan gubernur lagi, tapi ia menolak.
Penolakan itu diiringi lima alasan. “Aku takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama); aku ogah dicambuk; aku tak mau harta benda hasil jerih payahku disita; dan aku takut nama baikku tercemar,” kilahnya. Ia memilih tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada Umar, dan para pemimpin sesudahnya.
Tatkala kediaman Amirul Mukminin Ustman ibn Affan dikepung pemberontak, dalam peristiwa yang dikenal sebagai al-fitnatul kubra (bencana besar), Abu Hurairah bersama 700 orang Muhajirin dan Anshar tampil mengawal rumah tersebut. Meski dalam posisi siap tempur, Khalifah melarang pengikut setianya itu memerangi kaum pemberontak.
Pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah ditawari menjadi gubernur di Madinah. Ia menolak. Ketika terjadi pertemuan antara Khalifah Ali dan lawannya, Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia bersikap netral dan menghindari fitnah. Sampai kemudian Muawiyah berkuasa, Abu Hurairah bersedia menjadi gubernur di Madinah. Tapi versi lain mengatakan, Marwan ibn Hakamlah yang menunjuk Abu Hurairah sebagai pembantunya di kantor gebernuran Madinah. Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula ia mengembuskan nafas terakhir pada 57 atau 58 H. (676-678 M.) dalam usia 78 tahun. Meninggalkan warisan yang sangat berharga, yakni hadis-hadis Nabi, bak butiran-butiran ratna mutu manikam, yang jumlahnya 5.374 hadis.
***
Dari Sahabat

Akal dan Nafsu

Dalam sebuah kitab karangan ‘Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahwa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : “Wahai akal menghadaplah engkau.” Maka akal pun menghadap Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Wahai akal berbaliklah engkau!”, lalu akal pun berbalik.
Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : “Wahai akal! Siapakah aku?”. Lalu akal pun berkata, “Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah.”
Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau.”
Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : “Wahai nafsu, menghadaplah kamu!”. Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Lalu nafsu berkata, “Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau.”
Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya di neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Lalu nafsu berkata, “Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.”
Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu’ selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, ” Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah Tuhanku.”
Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahwa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa.
Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahwa nafsu itu adalah sangat jahat oleh karena itu hendaklah kita mengendalikan nafsu itu, jangan biarkan nafsu itu mengendalikan kita, sebab kalau dia yang mengendalikan kita maka kita akan menjadi musnah.
INNAN NAFSA LAAMMAROTUM BISSU’
Sesungguhnya nafsu itu membawa kita kepada kejelekan

Sabtu, 07 April 2012

FADHILAH WANITA

Point-point dari halaman ini terdapat di dalam
kitab Kanzul ‘Ummal, Misykah, Riadlush Shalihin,
Uqudilijjain, Bhahishti Zewar, Al-Hijab, dan lain-
lain, checking satu persatu belum dibuat. Mudah-
mudahan dapat diambil ibrah darinya :
Doa wanita lebih maqbul dari lelaki kerana sifat
penyayang yang lebih kuat dari lelaki. Ketika
ditanya kepada Rasulallah SAW akan hal tersebut,
jawab baginda : “Ibu lebih penyayang dari bapak
dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-
sia.”
Wanita yang solehah itu lebih baik dari 1,000
orang lelaki yang tidak soleh.
Seorang wanita solehah adalah lebih baik dari 70
orang wali.
Seorang wanita solehah adalah lebih baik dari 70
lelaki soleh.
Barangsiapa yang menggembirakan anak
perempuannya, derajatnya seumpama orang
yang senantiasa menangis kerana takutkan Allah
SWT dan orang yang takutkan Allah SWT akan
diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
Barang siapa yang membawa hadiah (barang
makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan
kepada keluarganya, maka pahalanya seperti
bersedakah. Hendaklah mendahulukan anak
perempuan dari anak lelaki. Maka barangsiapa
yang menyenangkan anak perempuannya
seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail
AS.
Tidaklah seorang wanita yang haidh itu, kecuali
haidhnya merupakan kifarah (tebusan) untuk
dosa-dosanya yang telah lalu, dan apabila pada
hari pertama haidhnya membaca
“Alhamdulillahi’alaa Kulli Halin Wa Astaghfirullah”.
Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan dan
aku mohon ampun kepada Allah dari segala
dosa.”, maka Allah menetapkan dia bebas dari
neraka dan dengan mudah melalui shiratul
mustaqim yang aman dari seksa, bahkan
AllahTa’ala mengangkatnya ke atas darjat, seperti
darjatnya 40 orang mati syahid, apabila dia selalu
berzikir kepada Allah selama haidhnya.
Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan
tinggal bersama aku (Rasulullah SAW.) di dalam
syurga.
Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan
atau tiga saudara perempuan atau dua anak
perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia
bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka
dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa
serta bertanggung jawab, maka baginya adalah
syurga.
Dari ‘Aisyah r.ha. “Barang siapa yang diuji dengan
sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia
berbuat baik kepada mereka, maka merekaakan
menjadi penghalang baginya dari api neraka.”
Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
Apabila memanggil akan engkau kedua ibu
bapamu, maka jawablah panggilan ibumu
dahulu.
Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya
akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka
pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana
pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-
ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit,
matahari dan bulan, semuanya beristighfar
baginya selama mana dia taat kepada suaminya
dan meredhainya. (serta menjaga sembahyang
dan puasanya)
‘Aisyah r.ha. berkata “Aku bertanya kepada
Rasulullah SAW. siapakah yang lebih besar
haknya terhadap wanita ?” Jawab baginda,
“Suaminya”. “Siapa pula berhak terhadap lelaki ?”
Jawab Rasulullah SAW. “Ibunya”.
Seorang wanita yang apabila mengerjakan solat
lima waktu, berpuasa wajib sebulan (Ramadhan),
memelihara kehormatannya serta taat kepada
suaminya, maka pasti akan masuk syurga dari
pintu mana saja yang dia kehendaki.
Tiap perempuan yang menolong suaminya
dalam urusan agama, maka Allah SWT
memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu
dari suaminya (10,000 tahun).
Apabila seseorang perempuan mengandung
janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para
malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan
baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan
menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
Dua rakaat solat dari wanita yang hamil adalah
lebih baik dari 80 rakaat solat wanita yang tidak
hamil.
Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa
pada siang hari.
Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat
pada malam hari.
Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak
bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya
pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT
Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70
tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada
satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.
Apabila seseorang perempuan melahirkan anak,
keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan
ibunya melahirkannya.
Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari
selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati
syahid.
Wanita yang memberi minum susu kepada
anaknya dari badannya (susu badan) akan dapat
satu pahala dari tiap-tiap titik susu
yangdiberikannya. 27. Jika wanita menyusui
anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun),
makamalaikat-malaikat di langit akan khabarkan
berita bahawa syurga wajib baginya.
Jika wanita memberi susu badannya kepada
anaknya yang menangis, Allah akan memberi
pahala satu tahun solat dan puasa.
Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur
yang tidak selesa kerana menjaga anaknya yang
sakit akan mendapat pahala seperti
membebaskan 20 orang hamba.
Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari
kerana menjaga anak yang sakit akan
diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan
bila diahiburkan hati anaknya Allah memberi 12
tahun pahala ibadat.
Apabila seorang wanita mencucikan pakaian
suaminya, maka Allah mencatatkan baginya
seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu
kesalahannya,bahkan segala sesuatu yang disinari
sang suria akan meminta keampunan baginya,
dan Allah mengangkatkannya seribu derajat
untuknya.
Seorang wanita yang solehah lebih baik dari
seribu orang lelaki yang tidak soleh, dan seorang
wanita yang melayani suaminya selama
seminggu, maka ditutupkan baginya tujuh pintu
neraka dan dibukakan baginyalapan pintu syurga,
yang dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa
dihisab.
Wanita yang menunggu suaminya hingga
pulang, lalu ia bersihkan mukanya, lalu dia
menyediakan makan minumnya, memandang
pada suaminya dengan mesra, memegang
tangannya, lalu menghiasi hidangan
makanannya, memelihara anaknya,
memanfaatkan hartanya untuk suaminya mencari
keridhaan Allah, maka disunatkan baginya akan
tiap-tiap kalimah ucapannya, tiap-tiap langkahnya
dan setiap pandangannya pada suaminya
sebagaimana memerdekakan seorang hamba.
Pada hari Qiamat kelak, Allah kurniakan Nur
hingga tercengang wanita mukmin semuanya
atas karunia rahmat itu. Tiada seorang pun yang
sampai ke mertabat itu melainkan Nabi-nabi.
Tidakkan putus ganjaran dari Allah kepada
seorang isteri yang siang dan malamnya
menggembirakan suaminya.
Wanita yang melihat suaminya dengan kasih
sayang dan suaminya melihat isterinya dengan
kasih sayang akan di pandang Allah dengan
penuh rahmat.
Jika wanita melayan suami tanpa khianat akan
mendapat pahala 12 tahun solat.
Wanita yang melayan dengan baik suami yang
pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan
medapat pahala jihad.
Jika wanita memijat suami tanpa disuruh akan
mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita
memijat suami bila disuruh akan mendapat
pahala tola perak.
Dari Hadrat Muaz ra.: Mana-mana wanita yang
berdiri atas dua kakinya membakar roti untuk
suaminya hingga muka dan tangannya
kepanasan oleh api,maka diharamkan muka dan
tangannya dari bakaran api neraka.
Thabit Al Banani berkata : Seorang wanita dari
Bani Israel yang buta sebelah matanya sangat
baik khidmatnya kepada suaminya. Apabila ia
menghidangkan makanan dihadapan suaminya,
dipegangnya pelita sehingga suaminya selesai
makan. Pada suatu malam pelitanya kehabisan
sumbu, maka diambilnya rambutnya dijadikan
sumbu pelita. Pada keesokkannya matanyayang
buta telah celik. Allah kurniakan keramat
(kemuliaan pada perempuan itu kerana
memuliakan dan menghormati suaminya).
Pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah SAW.
keluar mengiringi jenazah. Baginda dapati
beberapa orang wanita dalam majlis itu. Baginda
lalu bertanya, “Adakah kamu
menyembahyangkan mayat ?” Jawab
mereka,”Tidak”. Sabda Baginda “Sebaiknya kamu
sekalian tidak perlu ziarah dan tidak ada pahala
bagi kamu. Tetapi tinggallah di rumah dan
berkhidmatlah kepada suami niscaya pahalanya
sama dengan ibadat-ibadat orang lelaki.
Wanita yang memerah susu binatang dengan
“Bismillah” akan didoakanoleh binatang itu dengan
doa keberkatan.
Wanita yang menguli tepung gandum dengan
“Bismillah” , Allah akan berkahkan rezekinya.
Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan
mendapat pahala seperti meyapu lantai di
Baitullah.
“Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang
mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah
akan mejadikan 7 parit diantara dirinya dengan
api neraka, jarak diantara parit itu ialah sejauh
langit dan bumi.”
“Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang
memintal benang, Allah akan mencatatkan
untuknya perbuatan baik sebanyak utus benang
yang dibuat dan memadamkan seratus
perbuatan jahat.”
“Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang
menganyam akan benang dibuatnya, Allah telah
menentukan satu tempat khas untuknya di atas
tahta di hari akhirat.”
“Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang
memintal benang dan kemudian dibuat pakaian
untuk anak-anaknya maka Allah akan
mencatatkan baginya ganjaran sama seperti
orang yang memberi makan kepada 1000 orang
lapar dan memberi pakaian kepada 1000 orang
yang tidak berpakaian.”
“Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang
meminyakkan rambut anaknya, menyikatnya,
mencuci pakaian mereka dan memandikan
anaknya itu, Allah akan mencatatkan untuknya
pekerjaan baik sebanyak helai rambut mereka dan
memadamkan sebanyak itu pula pekerjaan jahat
dan menjadikan dirinya kelihatan berseri di mata
orang-orang yang memerhatikannya.”
Sabda Nabi SAW: “Ya Fatimah barang mana
wanita meminyakkan rambut dan janggut
suaminya, memotong kumis (misai) dan
mengerat kukunya, Allah akan memberi minum
akan dia dari sungai-sungai serta diringankan
Allah baginya sakaratul maut dan akan
didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari
taman- taman syurga dan dicatatkan Allah
baginya kelepasan dari api neraka dan selamatlah
ia melintas Titian Shirat. ‘
Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah
akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.
Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan
berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga
adab rumahtangganya akan masuk syurga 500
tahun lebih awal dari suaminya, akan menjadi
ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu
akan dimandikan di dalam syurga, dan
menunggu suaminya dengan menunggang kuda
yang dibuat dari yakut.
Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah
Allah di akhirat,tetapi Allah akan datang sendiri
kepada wanita yang memberati auratnya iaitu
memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.
Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik
perhiasan ialah wanita (isteri) yang solehah.
Salah satu tanda keberkatan wanita itu ialah cepat
perkahwinannya,cepat pula kehamilannya dan
ringan pula maharnya (mas kahwin).
Sebaik-baik wanita ialah wanita (isteri) yang
apabila engkau memandang kepadanya ia
menggirangkan engkau, jika engkau memerintah
ditaatinya perintah engkau (taat) dan jika engkau
berpergian dijaga harta engkau dan dirinya.
Dunia yang paling aku sukai ialah wanita solehah.
Rasulullah SAW bersabda bahwa, “Allah telah
memberikan sifat iri (pencemburu) untuk wanita
dan jihad untuk lelaki. Jika seorang wanita melatih
kesabarannya dengan iman dengan
mengharapkan pahala dari sesuatu perkara yang
menyebabkannya menjadi cemburu (iri hati),
seperti misalnya suaminya menikahi istri kedua,
maka ia akan menerima ganjaran seorang
syahid”.
doa seorang isteri yang taat memiliki kekuatan 70
wali
isteri yang membuatkan minum suami tanpa
diminta, pahalanya 3 x khatam Al Qur’an.
Masakan isteri yang dilakukan secara sunah dan
dimakan suami beserta keluarga pahalanya
semua untuk isteri dan do’a suami yang
memakan masakannya menjadi do’a yang
diijabah.
isteri yang membangunkan suami untuk shalat
atau menyuruh shalat berjamaah di masjid
pahalanya 27+1
Isteri yang kelelahan bangun malam karena
anaknya minta susu sama dengan pahala 70 x
haji mabrur
Seorang ibu yang menyusui setiap tetes susunya
senilai 200 8 shalat khusu wal khudu dan doanya
di ijabah’ (fadilah wanita)
burung di udara dan malaikat dilangit akan selalu
memintakan ampunan kepada Allah selama. Isteri
dalam keridhaan suami”,
“bila seorang suami pulang dengan gelisah dan
isteri menghiburnya maka isteri mendapatkan 10
pahala jihad”,
“bila seorang wanita hamil shalatnya dua rekaat
adalah lebih baik dari 80 rakaat shalat wanita yang
tidak hamil”,
“bila seorang wanita hamil akan mendapatkan
pahala 70 tahun shalat nafil dan 70 tahun puasa”
“wanita yang mencuci pakaian suami dan anak-
anaknya akan mendapat 1000 kebaikan dan akan
diampuni kesalahannya, bahkan segala sesuatu
yang disinari matahari memintakan ampun
baginya dan Allah SWT mengangkat derajatnya
1000 tingkat”.
“Wanita yang menyusui anaknya, maka setiap
tetesan air susu tersebut akan mendapatkan 1
pahala dan apabila cukup 2 tahun menyusui maka
malaikat dilangit akan mengabarkan berita bahwa
SURGA WAJIB BAgINYA”.
Apabila sorang wanita kdatangan haid maka
haidnya akan menghapus dosa2nya
apabila ia membaca pd hr pertama “Alhamdulilahi
ala kullu halin wa astagfirullaha min kulli zambi”
mk ALLAH akn membebaskannya dr jahanam,
shirat & adzab.
Setiap hr haidnya ALLAH tinggikan dia dng phla
40 org mati syahid apabila ia berdzikir.

Konsep Jihad dalam Khittah Perjuangan (Study Konsep Praksis atas Ideologi HMI-MPO)

pbhmiNET, OPINI- Konsep praksis ideologi Islam ala HMI-MPO merupakan penjabaran rumusan konsep teoritik ke dalam pedoman umum gerakan ideologi HMI-MPO untuk mencapai tujuan ideologisnya. Rumusan konsep praktss ideologi HMI-MPO dalam khittah perjuangan tertuang dalam muatan etos perjuangan dalam bab tafsir asas, serta bab tafsir usaha dan bab tafsir independensi HMI-MPO. Konsep praktis ideologi HMI-MPO, terdiri atas jihad dan hijrah, yang diwujudkan dalam sikap aktif menyerukan amar ma’ruf dan nahy munkar serta independensi. Rumusan konsep praktis ideologi Islam dalam khittah perjuangan HMI MPO adalah:

Jihad (Etos Perjuangan)
Dalam Alquran surat al-Ra’ad (13) ayat 11, Allah swt berfirman:
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS; 13: 11)..

Berdasarkan ayat tersebut, khittah perjuangan berpandangan bahwa:

”Perubahan tatanan masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai Islam bukanlah suatu janji Allah swt yang dberikan begitu saja kepada manusia tanpa ada proses pembentukan. Maka proses pembentukan suatu tatanan masyarakat ke arah yang lebih baik, memestikan keterlibatan manusia. Keterlibatan manusia dalam proses pembentukan tatanan masyarakat didasarkan pada peran penciptaan manusia di muka bumi sebagai khalifah di muka bumi, sehingga manusia memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur tatanan masyarakat.”

Peran khalifah harus dijalankan oleh manusia dengan berusaha dan berjuang sepenuhnya untuk pembentukan tatanan masyarakat yang diridhai Allah swt, dan tentunya tatanan itu berjalan dengan dasar nilai-nilai Islam yang berlaku di dalamnya. Keharusan untuk menegakkan cita-cita Islam dikenal dengan jihad fisabilillah. Jihad fi sablilillah yang berarti berjuang bersungguh-sungguh di jalan Allah. Karena itu, kader HMI-MPO juga harus memaknai jihad sebagai etos perjuangannya dalam segenap aiktifitas dan laku hidupnya. Keunggulan beriman dan berislam tergambar dari rasa tanggung jawab dan aktualisasi atau kerja. Tidak ada satu pun perubahan yang menyempurna kecuali dengan kesungguhan (jihad), dengan segala macam dimensinya.

Salah satu kualifikasi insan ulil albab yang dirumuskan khittah perjuangan adalah menjadi seorang mujahid yang memiliki semangat juang tinggi dan memiliki pemahaman dan kemampuan untuk berjihad di jalan agama. Jihad merupakan implementasi riil dari Tauhid, ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah sebagai modus existence dan tujuan tunggal. Untuk mewujudkan kekuatan masyarakat yang tangguh dan merealisasikan upata pemanusiaan yang hakiki. Jihad yang berarti kesungguhan mengerahkan segenap potensi manusiawi seseorang untuk mewujudkan nilai-nilai kebenaran universal. Dalam tafsir asas, khittah perjuangan membahasakan jihad dengan istilah etos perjuangan dan tema tersebut menjadi bagian penting dari muatan khittah perjuangan.

Semangat (etos) perjuangan menjadi sangat penting untuk dimiliki seorang insan yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Etos perjuangan menjadi bekal dalam berusaha dan berjuang untuk perbaikan masyarakat di setiap waktu dan di setiap tempat. Manusia yang memiliki etos perjuangan yang cukup kuat akan selalu sadar untuk melihat realitas di sekitarnya. Dan melakukan perubahan serta perbaikan lingkungannya setiasp saat. Bertolak dari asumsi bahwa tidak ada realitas yang diam, demikian pula masyarakat akan selalu berubah, oleh karenanya dalam khittah perjuangan, perjuangan harus dilakukan tanpa henti.

Secara tersirat, khittah perjuangan menyatakan bahwa dunia adalah medan perjuangan bagi manusia. Untuk itu manusia harus selalu siap untuk rela berkorban dengn harta atau bahkan dengan nyawanya sendiri. Segenap perjuangan dan pengorbanan manusia baik kuantitas maupun kualitas yang dikeluarkan di dunia ini teramat kecil bila dibandingkan rahmat yang dijanjikan oleh Allah di akherat kelak.

Dalam khittah perjuangan dikatakan:

”pada intinya, perjuangan dalam hidup seorang muslim merupakan suatu proses peningkatan kualitas akan iman yang membentuk jati diri muslim seutuhnya. Sebagai suatu ukuran keimanan yang paling terpenting dalam etos perjuangan adalah bagaimana seorng muslim dapat mempertahankan imannya dengan senantiasa tetap berjuang setiap saat (istiqamah).”

Khittah perjuangan menitikberatkan aksentuasi jihad pada semangat dan maksimalisasi proses yang dilakukan dan bukan pada hasil yang dicapai. Dalam khittah perjuangan dikatakan, keberhasilan suatu perjuangan bukanlah merupakan ukuran bagi titik kemuliaan keimanan seorang muslim. Demikian pula, kegagalan bukan pertanda kehinaan dari seorang muslim. Tapi sikap istiqamahlah yang menjadi penentu apakah iman seorang muslim itu, iman dalam artian sebenar-benarnya iman atau bukan iman yang hanya sebatas pengakuan tanpa implementasi.

Setiap perjuangan (jihad) yang dilakukan harus dilakukan atas pilihan sadar dengan dasar pemahaman dan keimanan, bukan sebuah tuntutan yang lahir dari luar dirinya. Mengenai hal tersebut, khittah perjuangan menyebutkan:

”Sebuah perjuangan dikatakan atas pilihan sadar harus memenuhi dua syarat, yaitu ”berkehendak” dan ”terlibat”. Ini artinya seseorang tidak dapat mengaku berjuang atas dasar pilihan sadarnya sendiri, jika dalam memulai perjuangannya dilakukan atas dasar perintah atau paksaan orang lain (bukan kehendak diri). Seseorang juga tidak dapat mengaku berjuang atas dasar pilihan sadarnya jika selama perjuangan tersebut, ia tidak langsung terlibat dalam segenap aktifitas perjuangan itu.”

Selain kesadaran akan pilihan, menurut khittah perjuangan seorang muslim dikatakan berjuang jika ia juga sadar akan resiko dan prestasi yang akan ia peroleh. Sehingga tidak ada perjuangan yang berjalan secara buta tanpa melihat apa yang akan ditemui di medan juang. Perjuangan yang dilakukan harus didasarkan atas perhitungan-perhitungan akan apa yang dihadapi dalam rentang waktu perjuangannya. Perhitungan yang tepat akan membuat perjuangan yang dilakukan dapat tepat sasaran. Selain itu secara psikologis, dengan perhitungan yang tepat seorang mujahid tak akan pernah bersedih ketika menemui kegagalan dalam perjuangannya.

Pada praksisnya, jihad terdiri atas jihad internal dengan jihad eksternal. Jihad internal atau jihad nafs merupakan perjuangan perjuangan manusia untuk menundukkan hawa nafsu yang melingkupi dirinya, yang sering membuat manusia tergelincir ke arah keterlenaan pada hal-hal yang merusak. Jihad nafs merupakan bentuk jihad yang dikatakan sebagai jihad akbar. Jihad eksternal ada jihad yang dilakukan untuk melawan musuh-musuh eksternal yang menghalang-halangi terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan. Keberhasilan dalam pelaksanaan jihad eksternal sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam perjuangan internal mengalahkan hawa nafsu yang menguasai diri.

Karena itu, bagi HMI-MPO, jihad tidak hanya dipahami dalam bentuk kerangka perang fisik, tetapi secara transformatif bisa diwujudkan dalam bentuk yang lain yang lebih variatif ke seluruh askpek kehidupan manusia. Dari perlawanan fisik dan persenjataan kepada perang terhadap hawa nafsu, perlawanan terhadap kebodohan melalui pendidikan dan pengajaran, perlawanan terhadap penguasa yang zalim, jihad melawan ekspansi ideologi dan gerakan pemikiran melalui perjuangan intelektual. Dengan kata lain, jihad lebih dititik beratkan pada upaya penyadaran menyeluruh terhadap umat Islam, tentang berbagai hal yang meliputi masalah keyakinan, Tauhid, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan kesemestaan.
by : Sabaru Putera Borneo

Masa Depan Tuhan

Oleh: Komaruddin Hidayat
Judul di atas adalah judul buku karangan Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan (2011) dalam edisi bahasa Indonesia. Aslinya The Case for God: What Religion Really Means. Armstrong adalah penulis keagamaan yang serius, tradisi risetnya kuat, sehingga pantas jika lebih dari 15 bukunya masuk ranking terlaris di dunia. Tuhan dalam kajian Armstrong adalah Tuhan yang menyejarah, yang hidup di tengah dan bersama pemeluknya,Tuhan yang kemudian melahirkan komunitas orang beriman dan sekian banyak tradisi dan institusi agama. 
Jadi, Tuhan sebagai Yang Mahatinggi dan Absolut tentu tidak dibatasi waktu, tak mengenal kemarin, sekarang, dan masa depan. Bahkan juga tidak terpahami oleh akal pikiran. Kita terlalu banyak berbicara tentang Tuhan akhir-akhir ini dan apa yang kita katakan sering dangkal, kata Armstrong (hlm 9). 
Di samping menyajikan dinamika jejak-jejak Tuhan dan pengaruhnya dalam sejarah manusia, buku ini secara tidak langsung menjawab paham ateisme modern yang berciri sangat rasional dan ilmiah (scientific atheism) yang telah memukau masyarakat modern dan anak-anak muda di Barat. 
Selama abad ke-16 dan ke-17, di Barat lahir peradaban baru yang diatur dengan rasionalitas ilmiah dan ekonomi yang berbasis pada teknologi serta penanaman modal. Sejak itu satusatunya ukuran kebenaran adalah metode ilmiah. Logos mengalahkan mitos. Padahal di dalam mitos keagamaan terkandung kebenaran dan kebajikan yang tidak dapat dijangkau oleh logos.
Tafsiran yang serbarasional atas agama menimbulkan dua fenomena baru yang sangat khas: fundamentalisme dan ateisme (hlm 19). Selama ini tokoh yang mengembangkan paham ateisme selalu merujuk pada Feurbach, Karl Marx, Nietzsche, atau Freud yang muncul di abad ke- 19.Tetapi sekarang bermunculan paham ateisme baru yang dimotori terutama oleh Richard Dawkin, Christopher Hitchens, dan Sam Haris. 
Dalam karyakarya mereka akan ditemukan argumentasi ilmiah kontemporer untuk menyerang umat beragama yang masih mempercayai Tuhan dan campur tangan- Nya dalam sejarah. Terhadap serangan dimaksud, buku Armstrong ini turut berdiri sebagai pembelaan terhadap eksistensi agama-agama. 
Logika dan pendekatan ilmiah, terlebih yang mengandalkan paham empirisisme-positivisme, tidak akan pernah mampu memotret dan menganalisis misteri kehidupan,keberagamaan dan kebertuhanan. Berbagai karya Armstrong secara serius berhasil menyajikan betapa agama dan keyakinan pada Tuhan selalu hadir pada panggung sejarah dan turut memengaruhi manusia memaknai hidupnya. 
Agama, keyakinan dan pemahaman terhadap Tuhan, senantiasa berinteraksi dengan perkembangan sejarah sebuah masyarakat dengan segala aspeknya. Karena itu, katanya, memahami kitab suci hanya sebatas kata-kata literernya akan menyesatkan dan mengalami reduksi, tidak sampai pada pesan inti agama.
Di sisi lain,arogansi ilmiah dalam memahami agama telah mendorong munculnya respons balik berupa fundamentalisme agama. Perubahan mind-set pemahaman agama dan kehidupan di Eropa sangat dipengaruhi oleh ekspedisi Christopher Columbus pada 1492 yang berhasil menemukan benua baru Amerika, yang disponsori Raja Katolik Ferdinand dan Isabella.
Berita keberhasilan ini menyebar bagaikan wabah baru, bahwa di luar Eropa ternyata ada dunia lain yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Jadi, ekspedisi, eksplorasi,perpindahan penduduk dan penyebaran informasi baru selalu melahirkan sintesa budaya baru, yang diawali dengan masalah dan tantangan baru. 
Hari ini, apa yang terjadi pada abad ke-15 di Eropa telah merata di seluruh dunia melalui jejaring internet dan dunia maya. Masyarakat terkondisikan untuk berani melampaui batasbatas dunia yang diketahui. Perjumpaan dan benturan berbagai tradisi dan informasi budaya serta agama ini telah membuat sebagian besar umat beragama gamang dan kaget (shocked). 
Bahwa klaim kebenaran, keilahian, dan surga ternyata juga dimiliki oleh kelompok umat agama lain. Sementara itu, ada juga kelompok yang secara gigih menentang adanya Tuhan dan ingin menghapus agama. Perasaan tidak nyaman dan terancam dalam beragama inilah akar munculnya gerakan fundamentalisme. 
Mengutip Armstrong, fundamentalisme adalah iman yang sangat reduktif. Dalam kecemasan dan ketakutan mereka, kaum fundamentalis sering mendistorsi tradisi yang mereka coba bela, misalnya dengan sangat selektif baca ayat-ayat kitab suci yang membenarkan kekerasan dan permusuhan terhadap umat yang berbeda keyakinan (hlm 470). 
Kaum fundamentalis yakin bahwa mereka berjuang atas nama Tuhan, tetapi sebenarnya religiositas jenis ini mewakili kemunduran dari Tuhan (hlm 471). Demikianlah, dunia terus berputar. Sejarah terus bergulir merekam sepak terjang pemikiran dan perilaku manusia. Agama pun sering kali jadi sasaran kritik dan caci maki.
Tetapi nyatanya agama tetap hidup dan berkembang.Tuhan selalu berada di hati manusia. Ini membenarkan pandangan yang mengatakan bahwa ”agama memiliki seribu nyawa”. Kalaupun mati satu, masih lebih banyak yang bertahan hidup. 
Orang boleh saja mengkritik perilaku umat beragama dan berbagai institusi keagamaan yang dibangunnya, tapi kesadaran, kebutuhan dan keyakinan agama masih tetap menggelora. Dengan agama seseorang mencari makna dan tujuan hidup yang lebih hakiki dan mulia. []
 
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah 
Judul buku: “Masa Depan Tuhan: Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme”
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Mizan, Juni 2011 , 608 halaman, ISBN: 9789794335895

Like Button

Comments

Video Gallery Saya

Kata-Kata Motivasi

http://www.yahoomessenger.com/t.fachruza
http://www.facebook.com/Ade Ground
http://www.twitter.com/TFachruza
http://www.cbox.ws/adeandika